ISOLASI

Abdul Rozak
Guru Besar FKIP-UGJ Cirebon

Anna Sabandina menatap layar komputer jinjing. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaan kantornya. Hari ini dia berpakaian santai,  bersarung dengan kaos oblong putih. Setelah salat subuh kemudian membaca Quran beberapa lembar dan tafsirnya, dia menyelesaikan pekerjaan kantor  yang dibawanya ke rumah. Sejak 2 hari yang lalu dia tidak ke kantor. Semua urusan kantor dikerjakan di rumah. Keputusan pimpinan telah dirancang dan dibicarakan dalam beberapa kali rapat. Kebijakan ini dilakukan untuk kebaikan semua orang, untuk melindungi semua orang. Kebijakan ini “dipaksa” karena perkembangan virus corona yang begitu sangat cepat. Dalam hitungan detik semuanya telah berubah. Kita berubah karena virus ini dan kita ingin tetap sehat, terhndar dari virus ini.
Semua orang menyesuaikan dengan “perilaku” virus itu. Lembaga merancang ulang program yang telah dirancang jauh sebelumnya. Virus itu meminta perhatian kita sebagai perseorangan, sebagai kepala daerah, sebagai kepala negara, sebagai lembaga yang mengurus kesehatan dunia. Semua mencurahkan perhatian, kepedulian, dan kemampuan lebih agar terhindar dari virus corona. Virus ini urusan dunia. Hampir semua negara di 5 benua terkena virus yang berasal dari Cina ini. 
Anna Sabandina tkeluarga idak pernah berpikir kondisi yang sekarang terjadi akan teralami dalam hidupnya. Dia yakin bahwa semua orang juga sama, tidak pernah membayangkan kondisi seperti sekarang ini. Dia yakin bahwa semua kepala negara, para pejabat negara tidak pernah menginginkan virus ini ada dan masuk ke negaranya. Kita semua kaget karena tidak pernah merancang kesulitan, penderitaan. Kita selalu menyusun program kebaikan bagi kita dan bagi orang lain yang terlibat dalam jangkauan kita. Virus ini bukan bagian dari kebiasaan bencana alam, misalnya banjir, angin topan, kebakaran. Peristiwa ini luar biasa. Dan kita juga luar biasa menanganinya karena sejak awal tidak disiapkan penanganannya. Manusia memang tidak akan pernah tahu rencana Allah. “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar”. (QS. Al-Qamar: 49)
Anna Sabandina melihat kesungguhan dari negara menangani bencana ini terutama dari dokter dan paramedis yang tidak pernah kenal lelah mengabdikan kemampuannya dan dirinya untuk menolong orang lain. Berbagai kebijakan dikeluarkan untuk mencegah penyebaran virus ini yang sangat cepat. Berbagai lembaga di berbagai negara mencari vaksin untuk mematikan virus itu. Semoga Allah memudahkan kita melawan virus ini, dan kita mengikuti perintah Allah,” Dan minta tolonglah dengan sabar dan salat. Sesungguhnya itu sulit dilakukan kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (Q.S al-Baqoroh ayat 45). Anna mengikuti semua regulasi yang disarankan pemerintah. Dia percaya pemerintah menginginkan rakyatnya selamat. Oleh karena itu, dia bersangka baik kepada pemerintah. Begitu pula kepada fatwa MUI. Dia percaya bahwa pemerintah dan MUI mengeluarkan kebijakan berdasarkan argumen ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sejak 2 hari yang lalu dia berkantor di rumah. Anak-anaknya juga belajar dari rumah. Dia melarang anggota keluar rumah tanpa keperluan kuat harus dilaksankan seketika. Sebagai kepala keluarga dia menjaga kesejahteraan anggota keluarganya. Dia meyakini bahwa orang yang pertama yang bertanggung jawab adalah kepala keluarga bila anggota keluarga sakit atau ada terlibat apa pun. Oleh karena itu, dia manata lebih apik, lebih mantap keluarganya. Dia berusaha berpikir positif dan menemukan hikmah.
Anna Sabandina memimpin  anggota keluarga meningkatkan ibadah kepada Allah. Salat wajib tidak boleh ditinggalkan dengan alasan apa pun. Salat harus tepat pada waktunya. Dibiasakan juga melaksanakan salat sunah rawatib. Bada salat magrib mengaji bersama dengan pimpinan kepala keluarga. Dia mengawali aturan dengan keinginan mendekatkan diri kepada Allah. Dia yakin apa pun yang terjadi di dunia ini atas izin Allah. Apa pun urusannya selalu berhubungan dengan izin Allah, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al-An’am: 59). 
Kesempatan bercengakrama dengan anak-anak, dengan istri makin sering. Dia menggunakan berbagai kesempatan untuk mengobrol berisi. Selama ini kesempatan ini sulit diperoleh karena kerja yang memerlukan waktu. Berangkat pagi dan pulang petang. Dia ke kantor, anak-anak ke sekolah. Bertemu malam anak-anak belajar, mengerjakan tugas. Alhamdulillah, sekarang dia memeroleh hikmah. Dia memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan kualitas keluarga. Nasihat-nasihat singkat dia berikan kepada anak dan istri sebagai bekal hidup lebih baik sesuai dengan aturan agama. Dia senang berlama-lama dengan keluarga. Akan tetapi, dia lebih senang jika situasi pulih kembali seperti biasa dan dia akan belajar memanfaatkan waktu berkualitas seperti dirasakannya sekarang untuk masa selanjutnya.
Dia mengelola pembelajaran di rumah. Belajar di rumah bagi anak-anak adalah mengembalikan kondisi sekolah, seperti di sekolah. Mereka menata ulang dengan kebiasaan yang belum terbiasa. Dia sebagai orang tua juga sibuk memerhatikan dan membatu kemudahan bagi anak-anaknya. Belajar tanpa kehadiran guru bagi anak-anak agak sulit. Sehari dua hari memerlukan penyesuaian. Alhamdulillah anak-anak cepat belajar dan sudah terbiasa menggunakan teknologi. Bagi keluarga kota pembelaajran daring tidak asing. Dia membayangkan bagaimana kondisi di luar kota dan keluarga yang kurang beruntung. Semoag sekolah mempunyai alternatif agar semua anak-anak mendapat kesempatan yang sama, belajar dalam keadaan darurat dan semoga virus cepat berlalu dan anak-anak kembali bersekolah dengan teman-teman dalam arahan guru. Dia selalu menemani anak-anaknya belajar setiap pagi dan malam. Dia hanya menemani dan anak-anak ternyata sangat senang ditemani.
Dia menanamkan  hidup bersih. Anjuran sehat untuk memerangi virus ini menjadika Anna Sabandina menerapkan hidup sehat bagi keluarganya. Dia mengingatkan semua anggota keluarganya untuk mencuci tangan menggunakan sabun, memakai hand sanitizer. Dia juga mengajari anak-anaknya berwudu dengan benar. Dia menjelaskan wudu yang benar berpengaruh terhadap kesehatan lahir dan batin. Bersih, sehat, kuat adalah tindakan yang harus dibiasakan dengan tanpa henti.
Dia juga menjaga hubungannya dengan para tetangganya. Di kampung Anna ada kesepakatan bahwa segala hal yang berhubungan dengan virus corona harus berbagi info dan saling menjaga dengan persangkaan baik. Dia bertemu tetangga di masjid.  Masjid masih penuh dan kegiatannya tidak berubah; salat berjamaah dan salat Jumat. Pengajian reboan sementara dihentikan. Dia dan para tetangga bersepakat hanya orang sehat yang boleh ke masjid. Kami bersangka baik. Alhamdulillah kami saling menjaga. Kami saling mendoakan untuk kebaikan, untuk kesalamatan dunia dan akhirat.
Anna Sabandina berharap kondisi ini cepat berlalu. Betapa banyak orang yang “berjatuhan” fisik dan batinnya pada saat ini. Perusahaan mengistirahatkan para pekerjanya. Bahkan ada yang telah mem-PHK-kan karyawannya karena tidak ada pemasukan. Sebab berakibat itu saling berangkai, berhubungan dengan banyak hal. Pekerja yang di-PHK berdampak pada keluarga. Anggoa keluarga akan menerima akibat kurang baik. Banyak hal yang tidak akan dapat diterjadikan karena kekosongan satu bagian. Setiap bagian berhubungan untuk menerjadikan hal lain. Anak tidak dapat bersekolah, makanan tidak bergizi, dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap keseluruhan pertahanan bangsa. Jika kondisi ini terjadi, corona tidak dapat diselesaikan. Anna Sabandina sangat meyakini bahwa ikhtiar pemerintah dan semua rakyat didasari doa bahwa Allah yang menentkan segalanya, insya Allah bangsa kita akan mampu mengatasi masalah virus corona.
“Ya, Allah sesungguhnya selama ini aku banyak melupakan pesan-Mu. Aku jarang membaca Quran, jarang mentadaburi pesan-Mu yang indah, pesan yang sesugguhnya memberikan arah hidup bahagia di dunia dan akhirat. Aku lupa mendekat kepada-Mu. Aku lupa membawa kerabat untuk mendekat kepada-Mu. Aku lupa bahwa segalanya yang menentukan terjadinya segala urusan adalah Engkau. Aku lupa bahwa permintanku selama ini diarahkan lebih besar kepada orang, lebih diarahkan kepada urusan dunia. Aku hanya memnyebutku pada saat tujuanku gagal. Ya, Allah kembalikanlah aku kepada-Mu. Ya, Allah ajarkanlah aku selalu mengingatmu, selalu berzikir, bersyukur, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu. Ya, Allah jika Engkau tidak menyebuhku dari sakit batin dan lahir ini, padahal Engkau Rabb Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Ya, Allah arahkan kami dan pemimimpin kami mendahulukan perintah Engkau. Ya, Allah berikan kesabaran atas segala musibah ini. Ya, Allah jadikan kami mendapat hikmah dari peristiwa ini. Ya, Allah kabulkan permohonanku. Aamiin” Anna Sabandina mengusap air matanya di malam bening.  

Cirebon, 21 Maret 2020

Sumber : Prof. Dr. Abdul Rozak, M.Pd