Deutschland online bookmaker http://artbetting.de/bet365/ 100% Bonus.

Sepenggal Kisah di Tanah Kiabu

Cukup banyak ilmu (dari Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unswagati) yang penulis aplikasikan pada saat terjun ke lapangan, terutama dalam pembelajaran di sekolah. Selama menjadi mahasiswa ada beberapa mata kuliah yang penulis rasakan manfaatnya di daerah penempatan (SM3T).

Terdapat mata kuliah pengembangan media dan model pembelajaran matematika. Khusus untuk daerah 3T pengembangan media pembelajaran harus berbasis lingkungan atau praktek langsung. Penggunaan media powerpoint mengalami kendala dengan pasokan listrik. Meskipun sekolah mempunyai pembangkit listrik sendiri (mesin diesel) namun keterbatasan minyak menyebabkan tidak setiap hari mesin tersebut dioperasikan. Misalnya untuk materi bangun ruang Tabung, cara mengajarkan mereka adalah dengan menghadirkan benda-benda berbentuk tabung yang ada di sekitar mereka kemudian mereka analisa sendiri unsur-unsur tabung dan cara menghitung volume tabung. Untuk materi aritmetika sosial atau mencari untung dan rugi, cara mengajarkannya yaitu dengan terjun langsung ke warung-warung untuk menanyai benda apa saja yang mendapatkan keuntungan yang besar dan kecil. Dan masih ada contoh lainnya yang menggunakan media berbasis lingkungan.

Hal pertama yang mesti diperhatikan adalah penggunaan pendekatan dan strategi pembelajaran. Di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) manapun selalu ada mata kuliah Pendekatan, Model, dan Startegi Pembelajaran. Anak-anak di pulau terpencil seperti ini tidak dapat kita samakan kemampuannya dengan anak-anak di kota-kota besar atau di tanah Jawa. Mendidik mereka perlu kesabaran ekstra untuk mengarahkan pada pembelajaran yang bermakna. Mereka mengalami kesulitan dalam menelaah pelajaran khususnya matematika. Operasi perkalian, pertambahan,
pengurangan dan pembagian yang seharusnya mereka kuasai di tingkat SD tetapi masih banyak dari mereka yang belum menguasainya. Oleh sebab itu, perlu pemilihan pendekatan dan strategi pembelajaran yang tepat. Penulis biasanya menggunakan pendekatan deduktif-induktif dengan selalu memantau satu persatu cara mereka dalam mengerjakan soal yang diberikan. Untuk sekolah disini tidak terlalu mengejar materi harus selesai sekian bab dalam satu semester atau pembahasan materi yang terlalu mendalam karena dikhawatirkan logika mereka tak sanggup mencerna. Visi belajar pengajar (penulis) yaitu sedikit materi tapi mereka paham apa yang dipelajari.  

Hal kedua yaitu bagaimana membangun komunikasi dan hubungan yang baik didalam maupun luar sekolah dengan para siswa. Saat masih kuliah terdapat mata kuliah psikologi pendidikan atau Bimbingan Konseling yang membahas tentang bagaimana mengatasi siswa yang mempunyai karakter unik seperti mengatasi siswa bandel, malas, dan lambat dalam memahami sesuatu. Semua itu harus kita pahami selaku pendidik. Karena tugas dari seorang guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran tapi mendidik mereka agar mempunyai karakter atau akhlak yang baik. Di dalam dan luar sekolah kita tidak boleh terlalu dekat dengan mereka karena dapat menyebabkan hilangnya wibawa kita sebagai guru. Jika wibawa sudah hilang mereka akan meremehkan kita. Kita harus pandai kapan menempatkan sebagai guru dan kapan menempatkan sebagai teman bagi mereka. Jika ada diantara mereka mengalami masalah tentang belajar kita beri nasehat dan solusi bagi mereka serta memotivasi mereka agar tetap fokus dalam belajar. Selain itu ada beberapa siswa yang mempunyai karakter keras  dan bandel cara mengatasinya dengan
pendekatan personal yaitu memahami karakter mereka tetapi juga harus tegas.

Hal ketiga yang mesti diperhatikan selain dari kegiatan proses belajar dan mengajar yaitu softskills dalam memimpin (leadership) suatu kelompok organisasi di sekolah. Kemampuan tersebut tidak didapat dalam perkuliahan tetapi dalam organisasi kampus atau UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Kemampuan memimpin siswa-siswi dalam mengarahkan kegiatan-kegiatan sekolah sangat penting agar mereka mau mendengarkan apa yang kita instruksikan. Seperti dalam mengolah kegiatan eskul pramuka dan keagamaan. Pengetahuan organisasi kepramukaan, PBB dan game-game
kekompakan serta dinamika kelompok mutlak harus dimiliki oleh seorang pembina. Begitu juga dengan kegiatan keagamaan pengetahuan agama yang kita miliki harus lebih dari siswa-siswi.

Hal lain yang tak kalah penting yaitu kemampuan beradaptasi dan bertahan dengan lingkungan sekitar (warga desa Kiabu). Semakin kita kuat beradaptasi dengan lingkungan sekitar maka semakin kita bertahan atau betah tinggal di suatu tempat. Apalagi di daerah perantauan yang mempunyai banyak sekali perbedaan baik bahasa, adat istiadat atau kebiasaan serta karakter mereka. Cara yang ampuh untuk beradaptasi dengan mereka yaitu mendekati tokoh-tokoh masyarakat atau agama yang mempunyai pengaruh besar di suatu kampung. Kemudian jangan tinggalkan mesjid dan pergauli orang-orang alim setempat agar pengetahuan agama dan keimanan kita tetap terjaga dengan baik. Sebab di daerah perantauan banyak sekali godaan karena banyak hal baru yang sebelumnya kita tak pernah temui di daerah kampung halaman kita. Kemudian kita tidak boleh bersikap angkuh atau sombong karena kita merasa bergelar sarjana
sehingga serasa paling pandai di daerah penempatan. Itu akan menjadi boomerang bagi kita, bagaimanapun juga mereka ingin dihormati oleh kita dan bersikap ramahtamahlah kepada mereka. Jika kita ingin dihormati maka terlebih dahulu harus menghormati, Jika kita ingin dihargai maka terlebih dahulu harus menghargai itulah hukumnya. Banyak dari kawan-kawan SM3T lain yang merasa kurang betah karena mereka gagal beradaptasi dengan lingkugan. Dan Alhamdulillah penulis diterima baik oleh warga desa Kiabu dan selama tinggal di desa kiabu tidak pernah bermasalah dengan siapapun baik siswa maupun warga.

Pesan Saya, Bagi adik-adik tingkat yang ingin mengikuti program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Tertinggal, Terluar dan Terdepan) persiapkan mental dan fisik kalian dengan baik. Hidup di daerah perantauan bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang berbeda mulai dari makanan, bahasa, kebiasaan masyarakat setempat, budaya, agama, dan lainnya. Mengikuti program ini bukanlah mencari uang tetapi lebih kepada pengabdian kepada saudara-saudara kita di berbagai pelosok negeri. Terimakasih.

 

Kiabu, 26 Juli 2015

Tonyadi, S.Pd

                                                                                                                    

Download Template Joomla 3.0 free theme.

Search

You are here: Home Pendidikan Matematika Alumni Sepenggal Kisah di Tanah Kiabu