Deutschland online bookmaker http://artbetting.de/bet365/ 100% Bonus.

Beasiswa Bantuan Hibah Provinsi Jawa Barat

Di beritahukan kepada seluruh mahasiswa FKIP Unswagati Cirebon Penyaluran Biaya Hibah Beasiswa Program Bantuan Biaya Belajar sebanyak 25 mahasiswa dan Tugas Akhir 2015 bagi Mahasiswa yang Berprestasi, Atlet, Anak Guru, Anak Medis,  Hafidz AL-Quran sebanyak 3 mahasiswa. Mahasiswa/I berdomisili di Jawa Barat dan penduduk asli Provinsi Jawa Barat.
Berkas Formulir Beasiswa dan Surat Pernyataan dapat diambil di KAUR Kemahasiswaan FKIP Rusdiyana, S.Pd., M.Pd atau dapat di download pada link di bawah ini.
 
 
Dikumpulkan selambat-lambatnya 27 November 2015 pukul 15.00 wib di KAUR Kemahasiswaan FKIP Rusdiyana, S.Pd., M.Pd.

Dosen Senior Universitas Malaya Berbagi Ilmu di FKIP Unswagati

 

CIREBON – Prof. Tutut Herawan selaku dosen senior Department of Information System University of Malayapada Sabtu (14/11) berkenan membagikan pengalaman dan triknya supaya dosen dapat mempublikasikan hasil penelitiannya pada jurnal internasional.

Publikasi jurnal internasional yang sekarang lagi dilirik oleh kemenristek dikti bagi setiap dosen yang akan mengajukan jabatan fungsionalnya ke profesor ataupun ke lektor kepala tanpa harus studi S3 terlebih dahulu. Bukan hanya jurnal yang sudah dipublikasikan secara internasional yang dikehendaki Dikti, melainkan jurnal internasional yang terindeks Scopus.

Kegiatan yang diwali dengan ucapan selamat datang oleh Dekan FKIP Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Pd. dihadiri oleh seluruh unsur pimpinan di lingkungan Fakulatas Keguruan dan Ilmu Pendidikan diharapkan dapat membantu meningkatkan kwalitas dosen FKIP, terutama yang mau meningkatkan jabatan fungsionalnya ke profesor ataupun lektor kepala.

Hampir semua dosen FKIP berkesempatan hadir pada acara workshop yang dilaksanakan di kampus 2 jalan perjuangan Cirebon, tidak sedikit pertanyaan yang disampaikan oleh para dosen, konsultasi untuk meminta masukan tentang jurnal yang sudah dibuatpun tidak lepas dari permintaan para dosen. Acara yang terlaksana secara hangat dan kekeluargaan ini ditutup dengan pemberian motivasi bagi mahasiswa yang akan mengambil skripsi, banyak trik dan strategi yang disampaikan Pak Tutut, acara ini sangat bermanfaat sekali bagi kami ucap salah satu mahasiswa peserta workshop (Pei).

 

Usulan Judul Proposal Skripsi T.A 2015/2016

Setelah berkonsultasi dengan para dosen pembimbing proposal, silahkan inputkan data diri serta usulan judul proposal pada tautan di bawah ini.

Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia (Jadwal Pengisian 23,24,25 November 2015)

Program Studi Pendidikan Matematika (Jadwal Pengisian 23 sampai 27 November 2015 jam 13.00 WIB )

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (Jadwal Pengisian 19,20,21 November 2015)

Program Studi Pendidikan Ekonomi (Jadwal Pengisian 16 November - 5 Desember 2015)

Catatan: Tautan di atas hanya aktif pada jadwal yang telah ditentukan.

Bahasa dalam Sumpah

left

Oktober menjadi banyak kenangan yang tertuang dalam pikiran dan perilaku bangsa Indonesia. Salah satu yang panting adalah peristiwa Sumpah Pemuda. Sumpah itu besejarah karena mendeklarasikan sikap dan keinginan kuat untuk merdeka, mandiri, terlepas dari kungkungan penjajah. Niat dan tekad itu disuarakan dengan lantang. Tiga sumpah itu berkaitan, tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Mengaku satu tanah air, satu bangsa dan menjunjung tinggi bahasa persatuan. Tanah air, bangsa, dan bahasa adalah tigal hal yang perlu dipelihara kehadirannya. Tanah air tidak dapat dipertahankan kebersatuannya tanpa bahasa yang sama. Anak bangsa tidak dapat disatukan tanpa bahasa yang sama. Harus ada media yang dipahami bersama seluruh anak bangsa dan para pemuda memilih bahasa Indonesia yang bermula dan dikembangkan dari Bahasa Melayu. Pada saat itu tidak ada perselisihan penentuan bahasa. Kesadaran tinggi atas nama kepentingan bangsa telah mengalahkan segalanya. Kebersamaan dalam pengertian yang susungguhnya adalah menata dengan baik apa yang dapat meninggikan harkat bangsa.

 

Tugas sesama kita adalah bagaimana sebuah pergaulan dapat menjadi bagian dari kita sehingga apa pun menjadi indah manakala terjadi kebersamaan. Bersama tegur menentukan arah dengan selalu mempertimbangkan milik kita masing-masing. Bahasa dapat membedakan gagasan-gagasan pembicara.  Bahasa menjadi berarti pada saat digunakan dalam kesamaan tujuan dan niat. Bahasa dapat melancarkan niat atau sebaliknya menghambatnya. Ketergantungan berkomunikasi terhadap bahasa sangat tinggi. Bahasa menjadi penengah yang tidak dapat diabaikan dalam menjalin hubungan apa pun. Komunikasi politik atau keluarga dapat didamaikan dan direnggangkan melalui penggunaan bahasa.  Pergerakan pihak-pihak tertentu dalam komunikasi bidang apa pun tidak terlepas dari peran bahasa.

 

Salah satu peran bahasa yang bersejarah adalah peristiwa Sumpah Pemuda. Mengapa para pemuda pada 28 Oktober 1928 mencantumkan bahasa dalam salah sumpahnya? Mungkinkah sumpah ketiga itu sebagai pelengkap setelah tanah air dan bangsa. Sumpah sebagi pengakuan selalu melalui pertimbangan matang.  Berbagi kemungkinan telah dipikirkan karena akibat yang muncul setelah sumpah dinyatakan bepengaruh terhadap banyak hal.  Sumpah jabatan, misalnya, bepengaruh terhadap banyak hal dan sangat luas karena ia memegang amanah. Sumpah walikota berpengaruh terhadap warga. Periaku kebijakan yang dilakukan tidak sejalan dengan sumpahnya akan menyengsarakan rakyat secara sistematik dan merusak kredibilitas dirinya. Sumpah selalu, pertama-tama berbalik pada dirinya. Apa yang disumpahkan adalah segala hal yang akan dilakukannya sepanjang keberlakukan sumpah itu. Apa pun risikonya harus selalu dihadapi sebagai bagian integral dari sumpah itu.

 

Dahsyatnya sumpah itu terletak pada pelaksanaannya. Rasulullah Saw. memerangi orang kafir dan siapa pun yang menghina Islam. Beliau selalu konsisten karena telah bersumpah hanya mengakui Allah sebagai satu-satu Tuhan yang patut disembah. Segala rintangan, betapa pun beratnya akan dihadapi. Kita sebagai umatnya seharusnya tidak melupakan kesaksian kita terhadap Allah dan Rasul-Nya. Ucapan sahadat kita mesti diterangjelaskan dalam perilaku yang berpedoman terhadap kitabullah dan sunnatullah. Tidak ada alternatif lain karena itu telah diucapkan. Sumpah adalah janji dan jani adalah utang. Utang harus dibayar. Jadi, para pejabat yang duduk di kursinya kini terikat lahir dan batin terhadap ucapan sumpahnya. Sumpah jabatan, jangan lupa selalu hal-hal baik dan untuk kebaikan semua umat yang verada langsung di sekitar wilayah jabatan itu dam pada umumnya untuk semua yang mungkin terjangkau atas kebijakan itu. Oleh karena itu, jika selalu amanah terhadap ucapan yang tertera dalam sumpah jabatan, Insyaallah tidak ada kemiskinan, tidak ada tindak kejahatan. Apa yang terjadi kini adalah kesalahan memaknai sumpah jabatan. Upacara pelantikan sekedar memberitahukan kepada khalayak bahwa jabatan yang diembannya telah diresmikan dan angkat sumpah sebagai bagian dari upacara.

 

Pernyataan sumpah awal janji akan melakukan segala hal seperti yang tercantum dalam kalimat sumpah itu. Sumpah adalah kekuatan yang harus dilengkapi dengan tindakan. Jabatan memang menarik banyak orang.  Banyak orang yang meliha jabatan dan dampak terhadap keuntungan dirinya. Perilaku pejabatnya tidak dipikirkan, tidak ditakutkan. Keuntunganlah yang menjadi sasarannya. Ketakutan akan risiko yang berdampak pada dosa dan salah tidak menjadi pertimbangan. Pertimbangan itulah yang sekarang merebak. Pada saat pemilihan jabatan tertentu orang berlomba memerolehnya dengan segala cara. Berbagai daya dan dana diarahkan dan pada saat jabatan telah diperoleh segala hal yang dapat menguntungkan dirinya dicari termasuk dengan cara yang tidak terhormat. Tindak pejabat semestinya berdampak pada kehormatan dirinya, institusinya, dan keluarganya juga. Akan tetapi, banyak pejabat yang melupakannya sehingga berakhir di penjara.

 

Bagaimana dengan sumpah para pemuda yang dideklarasikan 28 Oktober 1928? Sumpah itu berdampak pada generasi setelahnya.  Sumpah itu dirancang sebagai bagian terpenting dari membangun bangsa. Merancang masa depan,sebagai pertanggungjawaban perjuangan yang telah dijalankan berpuluh bahkan beratus tahun. Para pemuda pada saat itu tidak mempunyai pamrih apa pun. Mereka melihat masa depan yang harus dijalankan dengan baik dan berjalan juga dengan baik. Pikiran para pemuda telah berada jauh di depan, ratusan tahun ke depan. Prediksi dengan menggunakan kesungguhan dalam merencanakan, tanpa kepentingan pribadi, karena diyakininya bahwa mereka tidak akan merasakan apa yang telah diperjuangkannya. Daya juang mereka lebih besar dari keinginan menikmati. Kenikmatan yang diperolehnya adalah pada saat perjuangannya dilanjutkan dengan cara yang benar, dengan cara baik, dan dengan cara terhormat.

 

Bagaimana nasib bahasa persatuan kini? Bahasa persatuan diterjemahkan, diidentikan dengan bahasa Indonesia. Tafsiran itu mencermati penjelasan setelah bahasa persatuan. Tafsiran itu harus diperluas. Makna bahasa persatuan lebih luas daripada bahasa Indonesia. Bahasa persatuan ditekankan pada makna persatuan dan bahasa Indonesia sebagai media untuk menyatukan anak-anak bangsa yang memperjuangkan keutuhan tanah air, tanah air Indonesia. Bahasa harus diterjemahkan juga sebagai perilaku, budi pekerti. Hal ini sejalan dengan bahasa menujukkan bangsa.  Bahasa sebuah bangsa menggambarkan perilaku, akhlak bangsa itu sendiri.

 

Bahasa selalu mencerminkan kondisi kini karena ia wakil dari fenomena masyarakat penggunanya. Pada saat musim pemilihan presiden, ungkapan yang muncul, yang diungkapkan melalui media massa adalah bahasa politik, bahasa provokasi, bahasa ajakan untuk memilih calon tertentu. Pada masa pelemahan ekonomi seperti sekarang, istilah yang bermunculan adalah keluh kesah masyarakat tentang kenaikan harga, kesulitah hidup, pengangguran, peningkatan orang miskin. Di samping itu, muncul istilah yang berhubungan dengan gagasan perbaikan ekonomi. Para pakar dan pengamat berbicara banyak hal tentang alternatif pemecahan masalah ekonomi.

 

Bahasa selalu “ikhlas” menjadi penyalur gagasan dan perilaku manusia yang beragam. Ia tidak pernah mengeluh seberapa banyak dan seberapa lama digunakannya. Ia tidak pernah lelah melayani manusia. Segalanya direkam dalam rentetan hurup yang dituangkan dalam berjuta kalimat, tidak ada yang terlewat, terinci, titik dan koma hingga tanda seru dan tanda tanya tidak ada yang keliru. Begitulah peran bahasa. Pengingkaran yang disusun secara rinci dan matang dicatat tidak hilang satu kata pun. Pengakuan juga direkam dengan tepat. Apa pun yang telah diungkapkan manusia dicatat dengan kecermatan tinggi. Begitu patuhnya bahasa terhadap manusia. Sifat seperti ini bagi orang yang beriman menjadi perhatian yang sangat tinggi, dia akan berhati-hati mengeluarkan bahasa karena pada saatnya ia harus mempertanggungjawabkan apa yang diungkapkan. Bahasa itu meminta pertanggungjawaban.

 

Sumpah itu tercatat. Bahasa mencatat apa yang telah diungkapkan pada saat bersumpah dan setelah itu. Apa yang telah diucapkan tidak akan pernah hilang. Bahasa akan merangkai dan akan memiliah-milah segala hal yang dijanjikan  tetapi belum dilaksanakan. Bahasa mencatat segala hal yang telah dilaksanakan, sesuai dengan yang telah dikatakan. Bahasa menyusunnnya dalam bentuk folder, dalam bentuk fail sehingga tidak akan terpisah, tidak tercampur, tidak akan hilang. Bahasa tidak akan meninggalkan kita karena ia melakat dan siap melayani kebutuhan kita.

 

Sumpah jabatan dan segala sumpah serta janji mesti dicermati sebelum diucapkan karena ia meminta pertanggungjawaban.Semoga kita mendapati pemimpin yang telah menanamkan sumpah pada dirinya untuk mengabdi pada bangsa, negara, dan agama sebelum mengucapkan sumpah. Semoga saja.

 

Penulis: Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Pd

Dimuat pada Radar Cirebon 28 Oktober 2015

Download Template Joomla 3.0 free theme.

Search

You are here: Home Berita & Kegiatan